Dan?

Bukannya ini adalah konsekuensi yang harus kita ambil karna keputusan itu ya?
Entah kenapa aku tiba-tiba menjadi sangat takut, padahal saat itu aku yang menawarkan pilihan.
Tentu tak ada yang menginginkan perpisahan, aku yakin itu.
Perpisahan denganmu harusnya bukan akhir dari segalanya, kamu masih ada, menghirup oksigen yang sama, namun tetap saja, aku tidak pernah siap.
Terlalu cepat untuk sebuah kehilangan, secepat dulu aku jatuh, melabuhkan hatiku pada kenyamanan yang kamu beri.
Terimakasih sudah memberiku banyak momen kebahagiaan di kota ini, tapi bagaimana ini? Bagaimana aku bisa melupakan dan berdamai dengan kehampaan ini kalau sudut-sudut kota selalu memunculkan kenangan denganmu?
Sudahlah, tentu bukan aku saja yang kesulitan dengan keadaan ini, toh ini bukan perasaan satu pihak. Bukan begitu dan?
Aku mohonkan maaf sebesar-besarnya untuk perasaanku yang menyusahkanmu ini ya? Dan untuk permintaanmu, maaf aku belum bisa beri janji, aku belum siap untuk membuka hati untuk sakit lagi.
Semoga perasaanmu tidak menyiksa seperti ini ya, semoga selalu sehat dan senantiasa bahagia.

Tertanda, Alya.
Tepat 10 minggu lalu, semoga tidak akan menjadi penyesalanku.

21/04/2020

Komentar

Postingan Populer