Punggung
Di penghujung bulan istimewa ini, sepertinya aku akan mengakhirinya dengan air mata yang entah mengapa sangat mudah mengalir dan sulit dihentikan. Sedari tadi, yang kulakukan hanya menatap pemandangan dari jendela gerbong ekonomi-2, tentu saja dengan iringan suara kondektur dan playlist andalanku (re: kpop playlist for sleep). Ya, aku memang berniat tidur sejak meletakkan pantatku yang masih tahap pemulihan di kursi 90° ini. Namun aku malah terlalu larut dalam suasana sedih dari playlist yang harusnya jadi pengantar tidurku.
Setelah berlibur kurang dari 10 hari di rumah, rupanya tidak membuatku berhenti. Aku terus-menerus meratapi kesendirianku, kepergian teman-temanku, punggung-punggung yang menjauh, serta kenangan yang semakin samar. Sepertinya tali yang kami gunakan sudah terlepas dari ikatan, tampak rusak, mungkin karena terlalu brutal saat melepaskannya.
Sesekali suara kondektur sebelum pemberhentian stasiun membuyarkan lamunanku, seperti saat ini, akhirnya kuputuskan menulis karena putus asa menengok seluruh aplikasi chat dan medsos. Keputusasaan ini semoga akan menjadi ikhlas di kemudian hari, karena sejujurnya aku lelah menjadi manusia yang begitu negatif belakangan ini.
Komentar
Posting Komentar