Sudahkah?
Belum lama ini aku menginjak usia baruku. Asing, aku makin tak mengenal 'diriku'. Belakangan aku hanya memaksakan diri untuk bersikap dewasa. Tak menghiraukan perasaanku lagi.
"Sudah seharusnya dewasa, kamu terlalu kekanakan jika seperti ini". Kurang lebih begitulah mantra yang terus-menerus aku rapal. Seperti kembali pada stase awal, denial.
Oya, aku sudah sempat menjalani beberapa sesi konsultasi April lalu. Walaupun belum juga menemukan yang cocok. Aku merasa tidak tervalidasi. Kalimat mereka hanya keluar begitu saja, tanpa nyawa, template.
"Mungkin memang caraku bercerita tidak membuat mereka paham apa yang aku rasakan", pikirku saat itu.
Namun setelah sekian kali menceritakan apa yang aku rasakan kepada berbagai jenis manusia, belum kudengar kalimat yang terasa tulus keluar dari bibir mereka.
Kemudian membuatku berpikir, "Apakah yang aku alami ini benar-benar bukan suatu permasalahan? kenapa tak ada seorang pun yang mengerti?".
Setelah itu aku mencoba untuk mengesampingkannya, dan berusaha menjalani hidupku dengan 'positif' dan bersyukur.
Sayangnya hanya bertahan sesaat. Sebulan ini, semuanya kembali hampa. Kosong. Aku seperti tubuh tanpa jiwa. Dan hari ini, pertahananku hancur. Bahkan sebelum menulis ini, aku menangis dengan gila selama lebih dari 3 jam. Tubuhku gemetar, entah apa yang aku takutkan. Aku tidak benar-benar mengerti penyebabnya. Hanya menangis.
Kali ini lebih parah dari sebelumnya, sungguh tidak ada yang tersisa di sini. Belum sempat aku merasa takut kehilangan, mereka sudah benar-benar hilang selagi aku sibuk mendistraksi pikiranku.
Kurasa hidupku sudah mencapai titik [.]
p.s.
Sesekali aku masih bersosialisasi dengan 'normal' agar teman-temanku tetap merasa nyaman dan tidak menghiraukan kelakuanku. Ya, benar, aku tidak menceritakan apapun. Lagi-lagi memaksakan sikap 'dewasa'. Haha.
Komentar
Posting Komentar