Deny-
Beberapa hari yang lalu, aku berbincang dengan teman lama, yang rupanya benar-benar tak mengingatku sama sekali pada masa kita jadi teman satu sekolah. Dia menyangkal semua kisah yang aku sampaikan. Padahal aku mengingat detail satu momen ketika hatiku terluka karena perkataannya. Itu juga yang membuatku bisa melewati masa sekolah itu dengan sedikit (cukup sedikit) ambisi, karena menjadikannya sainganku. Luka itu masih terus kubawa untuk waktu yang sangat lama, dan karena kami tidak pernah membahasnya, aku pun belum pernah menerima permintaan maaf darinya.
Bertahun-tahun kemudian kami tak sengaja bertemu pada sebuah event, berbincang kembali setelah sekian lama. Canggung, namun dia sama sekali berbeda dengan sosok yang kukenal dahulu, mungkin akibat pubertas. Aku jadi mengaguminya.
Bertahun-tahun kemudian lagi, kami jadi sering bertemu, karena kami berada di lingkungan yang sama, intensitas meningkat, kami pun berteman (bahkan aku sempat menganggapnya teman dekat). Bagaimana aku mengetahui cara dia berpikir saat menanggapi sesuatu, memandang orang, dan lainnya membuatku makin mengaguminya. I'm his No #1 fans (self claimed). Bahkan teman-teman terdekatku mengetahuinya. HAHA.
Dan pada suatu titik, aku menyadari bahwa dia sangat mudah lupa, lebih parah daripada yang kuperkirakan. Dia tak mengingat kami dan teman lainnya berinteraksi pada masa-masa 'itu', konflik apapun. Aku sedikit bersyukur, karna itu cukup memalukan. Namun aku tetap penasaran, apakah dia juga melupakan perkataannya yang menyakitiku? Apakah aku tidak akan menerima permintaan maaf?
Hingga akhirnya beberapa hari lalu, dia menanyakan sesuatu yang membuatku berkesempatan menceritakan momen itu. Namun, dia SAMA SEKALI TIDAK MENGINGATKU PADA MASA ITU. Bukan hanya saat perkataannya menyakitiku. DIA BAHKAN TAK MENGINGAT SEMUA INTERAKSI KAMI. Padahal dia mengingat teman-teman yang lain. Jadi, luka yang kubawa terus menerus selama satu dekade ini benar-benar sia-sia? Baginya itu bukan apa-apa. Bahkan saat aku berkesempatan menyampaikannya, permintaan maaf juga tidak kuterima, karna dia terus-menerus menyangkal. Kupikir aku sudah lama memaafkannya, namun entahlah, rupanya aku memang pendendam karena tidak pernah melupakan kejadian itu.
Kini aku terus-menerus meragukan ingatanku sendiri. Semua memori di kepala ini, apakah merupakan kejadian yang sebenarnya, atau hanya ilusi yang dibangun oleh otakku? Karna Ayahku sendiri pun, selalu menyangkal perbuatan-perbuatannya yang membuatku begitu trauma dan sangat kesulitan selama ini.
Mungkin memang aku yang salah?
Komentar
Posting Komentar